RIWAYAT SEGA JAMBLANG





Sebagai penunjang dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari branding " Cirebon The Gate of Secret " sebuah produk promosi ala Kota Cirebon yang menawarkan merk dagang yang penuh rahasia dan cenderung religius sehingga mengundang banyak tanda tanya akan penasaran terhadap apa yang ditawarkan sebagai bagian promosi daerah tentunya juga ditunjang oleh wisata kulinernya, dan bukan sembarang kuliner melainkan kuliner yang penuh dengan sejarah panjang dan religius, yaitu Sega Jamblang yang mempunyai riwayat jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Kita tahu bersama bahwa alam moderisasi di Indonesia ternyata tidak hanya ditandai dengan bergesernya pola hidup agraris ke industri saja, tetapi juga aneka ragam makanan / kuliner yang mencirikan kekhasan daerah juga turut berubah, seiring dengan serbuan makanan siap saji (Fast Food) yang juga merupakan salah satu ciri moderisasi.

DiWilayah Cirebon misalnya, banyak jenis kuliner yang dulu pernah ada tapi sekarang sulit ditemukan. seperti Sate kalong atau Ciko ( aci koko ), kini hampir tidak ada lagi yang menjualnya. Anak-anak kita pun lebih mengenal Pizza Hut, Fried Chiken atau makanan ringan lainnya ketimbang Gadungan, Geblog, Jongkong, Klepon bubur Candil dsb.

Namun demikian, ditengah serbuan kuliner modern tersebut, masih ada beberapa kuliner khas Cirebon yang bertahan bahkan terkenal dan makin berkembang, seperti misalnya Nasi jamblang, Empal Gentong, Sega Lengko, Tahu Gejrot, dan Docang. Empat jenis makanan temp dulu itu hingga kini masih banyak ditemukan dan digemari berbagai kalangan, dan khusunya sega jamblang, malah boleh dibilang telah menjadi ikonnya kuliner Kota Cirebon, walaupun sebetulnya berasal dari Desa Jamblang di Kabupaten Cirebon.

Nasi Jamblang ini konon memiliki sejarah panjang dan terkait dengan perjuangan kemeredekaan. Ada yang mengatakan, nasi yang dibungkus dengan daun jati itu dulunya sengaja dibuat untuk memasok makanan kepada para pejuang yang bersembunyi dihutan-hutan pada saat perang gerilya, tapi menurut Pramoedya Ananta Toer dalam versi yang berbeda seperti disebutkan dalam bukunya yang berjudul " jalan Raya Pos jalan Deandels " ini mengaitkan Sega Jamblang dengan proyek pembangunan jalan dari Anyer menuju Panarukan, atau yang sekarang terkenal dengan nama Jalur Pantura.

Menurut Versi Pram, Sega Jamblang itu mulanya diciptakan ketika Gubernur Deandels memerintahkan pembuatan jalan Anyer-Panarukan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati itu dimaksudkan untuk dibagikan kepada rakyat yang dipekerjakan dalam proyek tersebut, karena para pekerja sendiri tidak ada yang mampu membeli rantang untuk tempat nasi. Lantas kenapa dibungkusnya dengan daun jati ?
Konon ceritanya, justru di situlah letak rahasia ( Secret ) nasi jamblang. Daun jati itu mempunyai pori-pori yang besar, sehingga nasi dapat dapat disimpan tetap pulen walaupun dalam waktu yang relatif lama.

Setelah Indonesia Merdeka nasi jamblang tetap dijual orang. Di Kota Cirebon sendiri, apada awal tahun 1970 sampai 1980-an nasi jamblang masih dijual dibeberapa tempat secara klemprakan di pinggiran jalan Gunung sari( sekarang Jl. Tentara Pelajar).
bahkan pada saat aku masih kecil di tahun 1980-an yang pada saat itu kawasan Gunungsari memang menjadi salah satu pusat keramaian di Kota Cirebon, masih teringat dibenak penulis pada saat itu hendak ke Pulogadung jakarta, naik Bus Kota dari terminal Gunungsari (sekarang dijadikan pasar Gunungsari)banyak berjejer klemprakan pedagang Nasi Jamblang. bahkan dipinggiran Kolam Renang dan Stadion Gunung Sari ( sekarang jadi Pusat Perbelanjaan Grage Mall) banyak yang jual nasi jamlblang, karena di gunungsari dijadikan terminal bis dan elf dan pusat keramaian lainnya. Namuns sayang sekitar tahun 1995-an semua itu berubah total.

Dulu nasi jamblang itu lauk pauknya masih sangat sederhana tapi istimewa cita rasanya, terdiri dari Tempe goreng, tahu kuning, sayur tahu, ikan asin panjelan, pelas, cemplung, sambal goreng tanpa daging dan beberapa lauk pauk lainnya.
Namun sekarang Nasi Jamblang sudah masuk ke Mal-mal dengan outlet-outlet yang tidak kalah menarik dengan makanan siap saji, dan sekarangpun sudah di jual diluar wilayah Cirebon merambah ke kota-kota besar seperti jakarta, lauk pauknya pun sudah ikut modern dan cukup bervariasi, ada semur daging, telor, dadar, kentang, goreng limpah kering, cumi, semur hati sapi dan masih banyak lagi variasi lauk lainya.

Namun satu hal yang cukup menarik adalah kemasan pembungkusnya yang tidak berubah sekalipun di jual di Mall atau di Blok M sekalipun tetap menggunakan Daun Jati, serta ada beberapa lauk pauk yang menjadi ciri khasnya tetap dipertahankan, dan tak kalah menarik, bila di pinggir jalan klemprakan pelayannya emak-emak atau aki-aki tapi kalau di Mall seperti SPG-SPG dengan busana dan dadanan modern tentunya.

Sekedar informasi ada beberapa tempat yang cukup lumayan untuk dikunjungi dan dinikmati betapa merdekanya manakala kita sudah berhadapan dengan meja saji sega jamblang, dengan beraneka menu masakan, seperti di Mang Doel Gunung sari, jamblang Pelabuhan, atau kalau malam hari di jln. Tentara Pelajar ada jamblang Ibu Nur, di depan pasar Gunung sari ada Jamblang Ibu Fitri yang buka dari jam 23.00 s/d 04.00, atau juga ditempat favorit Trio Macan di Lido jl, Cipto, atau juga di kawasan elit Warung Tenda CSB di Jl. Cipto.
Jadi bila berkunjung ke Kota Cirebon dan melewatkan tempat-tempat diatas maka serasa kurang pas dan penasaran kunjungan anda ke Kota Cirebon, inilah yang dimaksud dengan "Cirebon The Gate of Secret".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON