Keraton Kasepuhan Lambang Kejayaan Cirebon


Salah satu situs bersejarah yang layak dikunjungi di Cirebon adalah dua istana bersaudara, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah ia wafat, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda.

Memasuki kawasan Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut sebuah gerbang yang terbuat dari bata merah bertingkat. Bagian depan keraton ini biasanya dinamakan dengan Siti Inggil atau tanah tinggi, yang menghadap langsung ke arah lapangan tempat dulunya pasukan keraton berkumpul setelah melewati Siti Inggil yang berbentuk gerbang dan pagar panjang.

Di Siti Inggil ini ada lima bangunan tanpa dinding beratap sirap, yaitu Mande Pandawa Lima, yang bertiang lima dan melambangkan Rukun Islam, untuk duduk pegawai raja. Kemudian ada Mande Jajar dengan tiang tengah yang berukir sebanyak enam melambangkan Rukun Iman. Seluruhnya ada 20 tiang yang menggambarkan sifat ketuhanan. Digunakan untuk tempat duduk raja saat melihat alun-alun dan bila sedang mengadili terdakwa,

Bangunan lain adalah Mande Semar Tinandu yang bertiang dua, melambangkan Kalimat Syahadat. Berfungsi sebagai tempat duduk penasehat raja. Selanjutnya ada Mande Karesmen yang berfungsi untuk membunyikan Gamelan Sekaton pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, terakhir adalah Mande Pengiring untuk tempat duduk prajurit pengiring raja dan tempat hakim menyidang terdakwa.

Kejayaan

Tanda-tanda kejayaan keraton di zamannya bisa dilihat dari banyaknya keramik China dari Dinasti Ming yang ditempelkan pada dinding, mulai gerbang paling depan hingga bagian dalam keraton. "Keramik China melambangkan hubungan Keraton Cirebon dengan China dulunya sangat baik. Bahkan, salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah putri China," kata pemandu di Keraton Kasepuhan, Sugiman.

Ia menjelaskan, Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton itu dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang juga pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun 1549.

Teknologi

Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I.

Bentuknya, mengambil pola mahluk prabangsa. Kereta ini merupakan perwujudan dari tiga binatang menjadi satu, yaitu belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu; kepala naga melambangkan persahabatan dengan China yang beragama Budha; sedangkan sayap dan badan mengambil dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam. "Dari ketiga kebudayaan itu digambarkan dengan Tri Sula yang berarti tajamnya alam pikiran manusia,” ujar Sugiman.

Kereta ini dahulunya digunakan untuk upacara kirab keliling Kota Cirebon setiap tanggap 1 Syura dengan ditarik oleh empat ekor kerbau bule. Tapi sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan. "Kereta kencana Singa Barong ini telah memiliki teknologi yang menarik, seperti jari-jari roda dibuat melengkung ke dalam agar air dan kotoran tidak masuk ke dalam kereta," jelasnya.

Komentar

M Ebon Wahid mengatakan…
Asslmu'km, trimakasih atas sarana dan prasarananya, lan kula nyuwun izine maring kakang kula pengen nyalin isi blogere kangge ning blogere kula..trimakasih wasalamu'alaikum.

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON