Jokowi : Analisa Semut Melawan Gajah



“Calon lain itu gajah-gajah semua. Ada dua gubernur dan mantan Ketua MPR. Kalau saya hanya semut. Saya itu apa sih dibandingkan mereka?”. Demikian ucapan Jokowi di Solo, Rabu 21 Maret 2012 saat ia telah resmi diusung oleh PDIP dan Gerindra untuk maju “bertarung” dalam Pilgub DKI Jakarta.
Kala itu, Jokowi menganalogikan “pertarungan” Pilkada putaran pertama sebagai tarung semut melawan gajah. Jokowi semutnya, dan lawan-lawan politknya sebagai gajah. Hasilnya, semut menang mengungguli gajah-gajah pada putaran pertama.

Kini, menjelang putaran kedua, anologi Jokowi masih layak untuk disebutkan. Sekali lagi Jokowi harus bertarung dengan gajah-gajah. Namun, bukan para gubernur dan mantan Ketua MPR, melainkan sederetan gerbong partai koalisi di belakang Foke-Nara.
Hingga artikel ini diturunkan, tercatat telah ada 3 partai politik yang telah menyatakan kesediaannya bergabung ke dalam barisan koalisi Foke-Nara, yaitu PPP, Golkar dan PAN. Sementara, di kubu “semut”, tercatat tak ada satu pun partai yang menyatakan berkoalisi. Bisa dikatakan kubu Jokowi masih “adem-ayem”.

Bila dihitung di atas kertas, dengan menggandeng Golkar, PPP, dan PAN, maka saat ini total suara Foke-Nara berkisar di angka 39-40 persen. Sedangkan Jokowi, yang hingga kini belum mendapat pendamping, masih tetap tidak berubah di angka 42 persen. “Gajah-gajah” belum mampu mengalahkan semut.

Namun, hitungan di atas akan berubah, jika PKS menyatakan bergabung ke dalam deretan koalisi “gajah”. Dengan perolehan suara HNW sebesar 11 persen, diperkirakan suara yang diraup Foke-Nara adalah sebesar 51 persen. Sedangkan, Jokowi tetap “adem-ayem” 42 persen. Dengan prediksi suara cagub independent menyatakan golput.

Berdasarkan hitung-hitungan matematika politik di atas, kubu “gajah-gajah” akan memenangkan pertarungan melawan kubu “semut”. Tentu saja, dalam dunia politik, hitungan di atas kertas terkadang berbeda dengan hasil yang faktual.

Mungkin saja hitungan di atas berubah. Seiring kabar pecahnya suara PPP dan Golkar, demikian pula PKS (andai bergabung ke dalam koalisi “gajah”). Sementara, diperkiran, kubu Jokowi tetap solid 42 persen, bahkan bertambah dengan tambahan suara dari suara DPT terbaru, yang kebanyakkan golongan menegah ke atas, dan suara pecahan dari PPP dan loyalis JK di Partai Golkar. Dan juga mencermati Pilkada putaran pertama, dimana figur mampu mengalahkan mesin partai.

Jadi, kunci kemenangan Foke ada di PKS, yang terkenal memiliki kader militan. Menarik untuk ditunggu, apakah sejarah “semut” mengalahkan “gajah” akan terulang dalam Pilkada putaran kedua nanti. Atau, kali ini, “gajah-gajah” yang akan menginjak habis “semut”. Kita saksikan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Hj. Apriani Dinni Siti Nurbaini, M.Pd.I, Penerapan Pemimpin Transformasional Kepala Sekolah