Profesor Matthew Isaac Cohen, Ki Dalang dari Amerika

 
Sering Manggung sampai ke Pelosok Desa di Cirebon 

Bagi kebanyakan orang, mendalang merupakan kegiatan yang tak menarik. Tapi Profesor Matthew Issaac Cohen, pria berkebangsaan Amerika Serikat ini justru sebaliknya. Ia belajar, hingga kini fasih mendalang dunia.

 SUASANA sore itu di Keraton Kasepuhan tampak ramai. Karena akan diadakan geladiresik lima keraton, yang akan mengikuti Festival Keraton Nusantara VIII di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Di antara wajah para pribumi orang Indonesia, tampak sesosok berbadan tinggi, dengan kulit putih dan wajah orang Eropa alias bule, didampingi seorang putri kecil yang cantik. Dialah Profesor Matthew Issac Cohen.


Matthew panggilan akrabnya, mulai mengenal dunia dalang dan wayang pada tahun 1988. Ia beristrikan orang Indonesia Aviva Kartiningsih. Seorang penari yang memulai belajar dalang di kampus ISI Solo, jurusan pedalangan sebagai Fulbright Scholar. Menurut ayah satu putri ini, sebelumnya ia ikut main di salah satu kelompok gamelan di Boston, dan juga pernah membantu dalang Amerika, Marc Hoffman, sambil belajar Bahasa Indonesia di Hawaii. “Saya secara tidak sengaja belajar dalang,” ujarnya, kemarin.

Matthew yang kini menetap di London, Inggris sejak tahun 2000 itu, sebenarnya tidak dapat membayangkan bisa menjadi dalang sungguhan. Pada awalnya, ia hanya ingin sekadar tahu kesenian wayang dan dalang, agar bisa menjadi dasar untuk teater yang diciptakannya, sebagai penulis dan komponis, serta sutradara. Kecintaannya terhadap wayang semakin bertambah. Selain belajar, selama kuliah dia juga mulai belajar mendalang. Akhirnya dia memutuskan mengambil program doktor Antropologi Budaya dengan daerah penelitian di Cirebon. “Waktu itu dosen saya, Ki Dalang Joko Susilo mendorong saya untuk belajar dalang,” katanya.

Penerima gelar PhD di bidang antropologi dari Universitas Yale ini, melanjutkan pendidikan praktis sebagai dalang di Cirebon. Antara tahun 1993 dan 2000 saat melakukan penelitian doktor dan postdoctoral pada wayang kulit. Hingga pada tahun 2009, Matthew mendapat gelar kerajaan Ki Ngabehi dari Sultan Kraton Kacirebonan.

Obrolan di bangsal dalem Keraton Kasepuhan ini terus berlanjut. Matthew dianugerahi gelar tersebut karena seringnya manggung dalang di wilayah Cirebon sampai ke pelosok desa. Dan ia lebih sering mendalang di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Padahal ia pernah membawakan beberapa lakon wayang kulit di beberapa negara seperti Inggris, Kanada, Malaysia, Israel, Amerikaserikat, yunani, Belanda. “Saya lebih sering manggung di Cirebon dan masuk ke berbagai pelosok,” ujarnya.

Pria bertinggi 188 cm ini mengatakan, penghargaan masyarakat Cirebon untuk wayang kulit masih tinggi sekali. Masih sangat tajam dalam apresiasi. Ditambah lagi candaan dari musisi yang bikin suasana panggung sangat meriah. Maka tidak heran gaya vokalnya terutama untuk dialog, karakter lebih ke arah Cirebon daripada Jawatengah, meskipun ia mengawali belajar dalang di Solo. “Saya juga lama menetap di Cirebon, dan sekarang saya di sini sampai Lebaran,” tuturnya.

Kini kegiatan staf pengajar senior di Departemen Drama dan Teater, Royal Holloway University of London, Inggris itu selain mengajar, juga menulis buku. Ki Matthew Cohen masih kerap bolak-balik ke Indonesia untuk mendalang. “Mendalang kini sudah menjadi bagian hidup saya, dan kini saya mencoba memperkenalkannya kepada anak saya,” ujarnya.

Matthew mengatakan, mengenai dunia pewayangan di Indonesia ada kaitan erat dengan kemajuan seni teater boneka di dunia. Karena merupakan sebuah simbol antara kesenian tradisional, dan kesenian modern. Sehingga dirinya kerap kali menggabungkan kedua unsur seni tersebut. Tidak jarang ia pun sering keluar dari pakem mendalang yang sering dilakukan dalang-dalang di Indonesia. Ia memadukan gamelan dengan seni musik kontemporer dan juga paduan dengan alat musik serta tarian.

Dengan meramu alat musik gamelan dengan masuknya berbagai seni music, seperti bagpipe dari Skotlandia, trompet, clarinet dan musik elektronik, serta diiringi nyanyian jenis opera dan sinden Esther. “Ini semua dengan tujuan agar pagelaran seni wayang bisa menjadi lebih meriah,” ungkapnya.

Ia pun mengaku akan terus mempertunjukkan kesenian wayang sebagai dalang. Meski bukan orang Indonesia, namun kecintaannya terhadap kesenian tersebut, bisa membuatnya menjadi seorang yang berguna dan bisa bermanfaat dengan menghibur orang lain. Ia pun berencana akan berangkat ke Kabupaten Buton untuk mengikuti Festival Keraton Nusantara. Karena menurutnya, kebudayaan yang ada di Indonesia ini sangat menarik sekali. “Indonesia itu unik dengan banyaknya ragam kebudayaan,” pungkasnya. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON