Nama Terakhir



Entahlah...
Angin apa di pagi minggu ini
Menggetarkan seisk relung hati
Memaksa narik kertas dari laci
Membuat penaku kembali menari


Jujur....
Awalnya puisi terakhir
Segala ide mati takkan terlahir
Karena semua telah berakhir
Tersakiti oleh manisnya bibir

Kini burung kenari mati suri
Bungapun tak mau mekar lagi
Pengembala lebih memilih mengaji
Kertas dan kopi sdh tdk lagi sehati

Biarlah aku meratapi sendiri
Mencoba hidup tanpa puisi
Berkata tanpa basa basi
Tetap santun baik sedikit diplomasi

Sebenarnya bukan puisi terakhir
Bukan pula malas tuk berfikir
Tapi karena namamu yang terakhir
Kutulis indah dikertas kalkir

@putusali07052017
#kavling1309



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Juknis Lomba Tingkat II Kwartir Ranting Kesambi Kota Cirebon

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "