Legenda di Petilasan Sunan Kalijaga


SAMPAI saat ini masyarakat Cirebon belum sepenuhnya mengetahui asal usul peninggalan sejarah yang ada di lingkungannya. Salah satunya yaitu kawasan petilasan Sunan Kalijaga. Di kawasan tersebut ternyata memiliki banyak keistimewaan dan legenda yang hingga saat ini masih dipercaya masyarakat. Kepercayaan itu antara lain legenda Si Lorong yang berhubungan dengan pembuatan kain tenun, legenda satu orang raja dengan 11 punggawa, legenda Si Mandung (Syekh Khotim), legenda kera dan legenda jimat layang kalimursadat.


Menurut cerita tutur, dulunya Sunan Kalijaga pernah menetap beberapa kali di Cirebon dalam kurun waktu yang berbeda. Kedatangannya yang pertama bertujuan untuk menimba ilmu. Sedangkan yang kedua dalam rangka melaksanakan tugas sebagai wali. Terakhir Sunan Kalijaga menetap di Cirebon dalam rangka merintis pembangunan Kerajaan Cirebon.

Konon, dahulu Sunan Kalijaga sempat mengajarkan cara membuat kain tenun pada masyarakat setempat, sehingga hampir semua penduduk dapat melakukannya. Lambat laun daerah itupun berkembang menjadi "sentra" jual beli kain tenun. Akan tetapi, sejak kedatangan Belanda dan dilanjutkan oleh pendudukan Jepang, aktivitas pembuatan kain tenun semakin menyurut, hingga tidak nampak lagi. Masih menurut cerita lainya, Sunan Kalijaga terkenal sebagai ahli membatik dan sempat mengajarkannya kepada masyarakat setempat. Nyi Rupi'ah adalah orang terakhir yang mempertahankan pembuatan batik tulis khas Kalijaga. Sangat disayangkan sekali mulai tahun 1972 masyarakat setempat berhenti melakukan kegiatan membuat batik.

Jika kita menelisik kawasan kompleks petilasan Sunan Kaligaga itu memiliki luasnya 120.000 m2. Kawasan ini dilalui dua aliran sungai, yang masing-masing mempunyai dua sampai tiga nama yang berbeda.

Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Masjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dam cuci pakaian, dahulu kali ini juga dapat digunakan untu wudlu. Pada kawasan itu terdapat bangunan petilasan, sumur kuno, masjid keramat, makam dan selebihnya berupa semacam hutan lindung yang dihuni kera.

Bangunan petilasan Kalijaga oleh penduduk setempat disebut Pesarean (dari kata Jawa yang berarti tempat beristirahat). Bangunan ini berdenah bentuk huruf L terdiri tiga ruangan. Ruangan pertama merupakan tempat bagi para peziarah untuk memanjatkan doa, yang dapat dimasuki melalui pintu pertama yang disebut  pintu bacem. Ruang kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan ruangan ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu.
Orang kepercayaan

Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Bagian ini dibatasi dengan dengan kuta kosod (susunan bata merah) setinggi 1.120 cm dan tebal 190 cm. Menurut cerita rakyat, ketika Cirebon "dikuasai" VOC, lokasi ini pernah dijadikan tempat pertemuan para panglima perang Kesultanan Kanoman, Kasepuhan, dan Mataram untuk menyusun strategi melawan mereka.

Bangunan masjid keramat di kompleks petilasan Sunan Kalijaga dahulu dindingnya terbuat dari kayu dan aber atap daun kelapa (welit, blarak). Sekarang sudah diganti dengan dinding bata diplester dan beratap genting. Di pinggir kali dekat masjid terdapat sumur kuno. Konon sumur kuno ini umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Sumur ini juga disebut sumur wasiat. Di dekat Kali Simandung terdapat makam keramat dengan tokoh yang dimakamkan adalah Syech Khotim. Beliau adalah kepercayaan Sunan Kalijaga.

Hutan lindung di kawasan petilasan Sunan Kalijaga, ditumbuhi beberapa jenis pohon besar, seperti bebang, repilang, rengas, dan albasia. Kerimbunan pepohonan ini mendominasi pemandangan. Pada rindangnya pepohonan tersebut akan tampak kera-kera yang saling bergelantungan dan berkejaran. Pada pagi hari mereka turun, dan duduk berbaris di tepi kali, ada juga di antaranya yang tampak mencari kutu. Mereka juga akan turun, jika ada pengunjung, terutama yang terlihat membawa makanan. Pada saat ini populasi mereka sekitar 72 ekor. Hutan lindung ini disebut Taman Kera Kalijaga.

Kondisi sekarang ini, keberadaan pohon besar cenderung semakin berkurang, tergusur permukiman dan tempat usaha. Akibatnya, kera-kera penghuni kekurangan pangan, sehingga kerapkali memasuki rumah penduduk, bahkan ada di antarannya dengan cara merusak atap. Kerusakan "habitat" ini pula yang menyebabkan sebagian diantara mereka bermigrasi ke kampung lain.-Jejep Falahul Alam/"KC"/dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Juknis Lomba Tingkat II Kwartir Ranting Kesambi Kota Cirebon

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "