Sejarah Kesenian Cirebon



LETAK geografis Cirebon yang berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan, menyebabkan kebudayaan di Kota Pesisir ini terkesan tindih-menindih. Salah satu yang amat membekas yakni pengaruh kebudayaan Hindu, baik yang tumbuh di Jawa (Hindu-Jawa) maupun di Sunda (Hindu-Sunda). Indikasi ini misalnya terlihat dari lambang Keraton berupa Harimau putih, yang menurut catatan sejarah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu-Sunda.

Kalau kita cermati dinamika yang terjadi dalam kebudayaan (baca: kesenian) Cirebon, akan tampak perwujudan persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sejarah mencatat, sebelum kebudayaan Hindu masuk penduduk Pulau Jawa — termasuk juga Cirebon — memuja segala manifestasi alam yang mereka lihat sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, batu karang dan laut, juga sungai, gunung, angin dan topan yang sekali-kali mengganggu kehidupan mereka.

Mereka percaya bahwa segala manifestasi alam ini mempunyai roh sendiri, umpamanya roh nenek moyang mereka yang selalu hadir dan mengamati mereka, yang menjadi penjaga kehidupan dan kesehatan. Dengan demikian, bagi orang-orang pra — Hindu semua kesenian bahkan dekorasi pada benda-benda fungsional merupakan perwujudan kepercayaan agama.

Makna spiritual

Benda-benda kesenian pada masa dulu dipandang memiliki nilai spiritual tertentu atau memiliki makna keagamaan yang tinggi. Lebih dari itu, benda-benda kesenian tersebut sudah diposisikan terhormat bahkan sebelum mewujud sebagai benda tertentu. Dengan kalimat lain, dari bahan dan tehnik pembuatannya pun sudah mempunyai makna spiritual.

Lambang-lambang khas yang dipakai untuk menghiasi benda kesenian tersebut mempunyai makna keagamaan pula. Pola-pola abstrak seperti bentuk swastika atau wajik, begitu juga bentuk-bentuk naturalis seperti ragam hias pohon hayat dan bentuk batu karang yang bergaya khas yang dinamakan Wadas, merupakan semua lambang kehidupan kerohanian dan organis dan berasal dari masa sebelum kebudayaan Hindu masuk di pulau Jawa.

Eksistensi kesenian — berikut benda-benda seninya — ternyata banyak bermanfaat dalam proses penyebaran agama Islam. Wali Sanga misalnya, para Wali ini menggunakan jalur-jalur kesenian untuk mencapai hati nurani rakyat.

Hal ini tampak pada strategi yang dilakukan Sunan Kalijaga. Beliau menyesuaikan bentuk-bentuk kesenian tradisional kepada kebutuhan rohaniah dan artistik dari masyarakat muslim baru, dan menyatukannya dengan lambang dan ungkapan baru.

Musik, lagu, dan tari, seni lukis, seni pahat dan arsitektur telah mencapai dimensi-dimensi baru. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa salah satu Masjid tertua di Jawa yaitu Masjid Agung Cirebon, bentuknya masih berdasarkan peraturan-peraturan bangunan Jawa Kuno. Begitu juga tidaklah mengherankan bahwa pada perayaan Maulid Nabi, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha masih terdengar suara gamelan sekaten, yang berasal dari masa pra-Islam, yang telah mendapat nama baru, yang mungkin berakar dalam kata hahadati.

Gambaran menjadi lebih jelas lagi kalau mengamati pola dan ragam hias serta desain Cirebon serta mengungkapkan suatu sintesa yang menarik dari berbagai bentuk kebudayaan dan filsafat.

Di zaman Hindu patung dan lukisan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kuil, dan melukiskan wujud agama serta lambang kepercayaan Hindu. Pola-pola semacam ini sekarang dapat dilihat antara lain dalam batik Cirebon dan juga dalam segala corak kesenian Cirebon yang dipengaruhi oleh persentuhan dengan kebudayaan asing lainnya, yang lambat laun diserap dalam kesenian Cirebon Hindu.

Kedatangan agama Islam dengan pola-pola baru dan anjuran agar tidak melukiskan segala bentuk manusiawi dan hewani, justru memperkaya imajinasi para seniman zaman dulu. Anjuran ini tidak selalu ditaati, tradisi kuno dipertahankan dan diperkaya dengan pola yang berciri Timur Tengah, Persia dan India. Sebagai contoh dapat disebut desain Singa Putih, suatu ragam hias yang berkali-kali muncul kembali, yang sebetulnya berasal dari harimau putih, tetapi yang lambat laun berubah menjadi Singa Persia, atau malah Singa Tiongkok.

Ragam hias

Sekitar tahun 30-an, Keraton Cirebon menghadiahkan sebuah umbul-umbul yang sangat megah kepada Pangeran Mangkunegoro di Solo. Umbul-umbul tersebut dipakai dalam upacara keagamaan kini tergantung di musium Tekstil Jakarta. Benda inipun merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari tradisi kesenian itu.

Di sana digambarkan seekor macan putih dari Cirebon yang dikelilingi oleh kutipan ayat-ayat al-Quran dalam tulisan Arab. Harimau ini sangat mirip dengan singa Iran, dan menjadi lambang Ali, keponakan Nabi Muhammad saw yang disebut Singa Allah dan menjadi pelindung khusus dan tarekat kaum seniman. Singa ini juga merupakan salah satu pola utama dalam kaligrafi Islam, umbul-umbul dipakai sebagai penolak bala.

Style ini kemudian diserap lagi dalam campuran ragam hias yang merupakan ciri khas kesenian dekoratif Cirebon; suatu sintesa yang sungguh-sungguh dari semua ragam kesenian yang diketahui sejak dahulu kala, tepatnya zaman kerajaan dari Pantai Utara Jawa, melalui masa Hindu dan Islam, termasuk pengaruh Cina dan Eropa di zaman yang lebih dekat lagi. Dari kolaborasi inilah seringkali kita saksikan suatu campuran ragam hias dengan corak Hindu, Persia atau Tiongkok yang ditambah dengan kaligrafi Islam. Campuran yang aneh ini seringkali muncul dalam cabang kesenian seperti pahatan kayu dan lukisan di atas kaca.

Selain di atas kaca, pada seni rupa Cirebon juga terdapat seni melukis langsung di atas kain atau dengan mempergunakan suatu proses aplikasi daun emas. Teknik ini ternyata sangat tua dan rupanya berasal dari India. Lukisan-lukisan yang terdapat pada relief-relief Borobudur memperlihatkan penggunaan penutup tubuh seremonial dengan gambar-gambar tersebut di atas. Di Bali pun kita lihat sekarang contoh pakaian upacara dengan aplikasi emas yang dipakai oleh para penari. Begitupun dalam kuil-kuil nampak kain bertulis dan almanak yang menghiasi rumah orang. Orang berpendapat bahwa bentuk seni ini dulu juga ada di Cirebon, dan memainkan peranan besar, baik teknik, maupun desainnya, dalam pertumbuhan perkembangan teknik batik Cirebon yang khas.

Pada bagian lain, kita pun bisa menyelami teknik membatik, yaitu teknik mencetak atau melukis kain dengan cara menutup sebagian dari kain dengan malam atau perekat yang dibuat dari beras dan bahan lain sudah sangat tua umurnya dan seperti juga patung dari batu atau kayu, pada asalnya merupakan sebagian dari upacara tradisional. Tetapi kain lekas punah dan karena itu kini tidak ada lagi peninggalannya.

Dalam konteks Cirebon, banyak terdapat gaya-gaya dengan pola-pola yang berani, berbentuk liong, singa, gajah, mega mendung, wadas, tumbuh-tumbuhan menjalar serta ayam jago yang berkokok. Kebanyakan motif ini merupakan lambang yang dipuja, yang menunjukan kekuatan jantan dan keberanian, malah kadang-kadang keagresifan, petunjuk tentang suatu bangsa yang ingin memperkenalkan kehadirannya setelah begitu lama diterlantarkan oleh dunia luar.

Pahatan kayu, kain penghias dinding, tekstil, musik, tarian dan masakan-masakan, semua bentuk kesenian di Cirebon ini telah mencapai mutu keindahan dan keluwesan dan memperlihatkan tanda yang sama bahwa kesenian ini merupakan perpaduan berbagai-bagai tradisi. Hal inilah yang menjadikan kesenian Cirebon cenderung fariatif dan kompleks, penuh kolaboratif sehingga sangat indah untuk dinikmati, dan amatlah menarik untuk dipelajari.

diambil dari Pikiran Rakyat, 04 April 2004.
Oleh: PRA. Arief Natadiningrat, SE, MM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON