Nadran sebagai Pestanya para Nelayan yang sarat Filosofis


Tulisan ini kami anggap sebagai wujud syukur kami atas diperkenankannya kami untuk mengikuti prosesi Nadran pada tanggal 11 April 2010 maka kesempatan ini kami pergunakan semaksimal mungkin yang sekaligus juga sabagai pengumpulan bahan penelitian makalah tugas Antropologi Sosial tentang Masyarakat & Kebudayaan, jadi sambil menyelam minum air dechhh... maka jadilah tulisan ini yang nanti akan terbagi dalam beberapa judul cerita...

Bila kita mengkaji lebih dalam terhadap sebuah kebudayaan tentunya sangat menarik dan tak kan habis untuk dibahasnya, karena kebudayaan itu sendiri muncul dan ada seiring dengan eksistensi manusia yang mempunyai fikiran, rasa dan karsa, dengan kebudayaan juga telah melahirkan suatu nilai atau norma-norma yang tentunya telah membentuk sebuah karakter suatu masyarakat yang ada dan hidup dalam lingkup dan budaya tertentu. Perbedaan secara geografis, sosial, mata pencaharian, pendidikan dan latar belakang kehidupan ekonomi yang berbeda satu sama lainnya dapat melahirkan budaya yang berbeda pula dengan masyarakat yang lainnya. fenomena kebudayaan adalah sesuatu yang khas bagi manusia. Subtansi kebudayaan menghendaki pembaharuan dan daya cipta otonom manusia sebagai reaksi terhadap perubahan yang terjadi dikarenakan manusia yang juga selaku pelaku dan penentu kebudayaan, karena manusia menjalankan hidup dan kehidupannya untuk mencari suatu sistem nilai agar kemanusiaannya menjadi lebih bermakna dan komunikatif.

Lantas wujud apa saja dalam kebudayaaan itu sendiri, menurut Koentjaraningrat(1984:5), kebudayaan memiliki paling sedikit tiga wujud, yaitu :
1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia

Pendapat diatas dapat dimaknai bahwa, nilai dan norma budaya merupakan wujud pertama kebudayaan, yang menurut Koentjoroningrat (1984:5) mengemukakan bahwa wujud pertama adalah wujud ideal kebudayaan, bersifat abstrak, tak dapat diraba atau dilihat. Lokasinya ada di dalam kepala, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat diamana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kebudayaan ideal ini dapat disebut sebagai adat tata kelakuan. Atau secara singkat adat dalam arti khusus, atau adat-istiadat dalam bentuk jamaknya.

Kabupaten Cirebon yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat tentunya sangat kompleks segala akar kehidupan masyarakatnya, hampir semua suku bangsa, agama, kepercayaan masyakat lokal dan bahasa daerah ada maka tentunya banyak macam-macam tradisi-tradisi yang khas dalam menciptakan dan mengelolah tata kehidupan mereka dalam menjalin hubungan dengan alam, Tuhan dan antar manusia itu sendiri. Tata kehidupan ini tentunya akan melahirkan sebuah bentuk atau pola cara berkomunikasi dan berinteraksi antara manusia dengan lingkungan alamnya dalam suatu budaya lokal yang telah disepakati oleh masyarakat sekitarnya dan akhirnya menjadi sebuah indentitas atau ciri secara lokal dan dapat membedakan antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, inilah suatu bukti kreativitas manusia dalam beradaftasi dengan sebuah lingkungan hidupnya.
Sebagai contoh gambaran kebudayaan yang menjadi tradisi tersebut diatas adalah akan keberadaan sebuah tradisi para nelayan di Sungai / kali Bondet Desa Mertasinga Kecamatan Gunung Jati Kab. Cirebon, yang disebut Nadran. Walau semakin gencarnya dan kemajuan teknologi informasi serta kuatnya pengaruh budaya Barat, namun tradisi Nadran masih merupakan satu budaya lokal Nusantara yang masih menggeliat dalam mempertahankan tradisi leluhurnya hingga sekarang.

Bermacam cara yang menyimbolkan rasa syukur atas kekayaan laut rupanya telah lama diekspresikan dan dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi sesuai dengan kebiasaan, adat, dan kebudayaan di masing-masing tempat di Indonesia. Salah satunya adalah upacara nadran. Nadran merupakan sebuah upacara yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil alam (laut) yang diperoleh sepanjang tahun oleh masyarakat khususnya para nelayan di pesisir pantai utara Jawa. Secara singkat Nadran kemudian lebih dikenal dengan pengertian pesta laut atau acara sedekah laut.
Upacara Nadran biasanya diadakan satu kali dalam setahun, pada bulan Kapit (Zulqaidah) namun sekarang pesta Nadran di Desa Mertasinga dijadikan agenda tahunan pariwisata Kab. Cirebon makanya perayaannya bersamaan dengan Hari Jadi Kab. Cirebon yang menjadikan Nadran sebagai rangkaian peringtaan hari jadi tersebut, sebagaimana halnya upacara Bersih Desa atau Sedekah Bumi, upacara Nadran juga melibatkan seluruh penduduk desa, yang bertujuan sebagai bentuk rasa syukur atas karunia Yang Maha Esa atas limpahan ikan yang dilimpahkan kepada mereka. Prosesi pelaksanaannya biasanya diawali dengan pemotongan kepala kerbau dan pemotongan nasi tumpeng. Kepala kerbau yang disebut Mahesa tersebut dibalut dengan kain putih dan kemudian bersama dengan perangkat sesajen lainnya dilarung dengan mengunakan perahu yang sudah di hias dengan berbagai hasil bumi dan berbagai atribut atau umbul-umbul bahkan tak jarang baju-baju dan kain-kain baru di pasang di atas perahu di bawah ke tengah laut lepas dan kepala kerbau di tenggelamkan. Sementara nasi tumpeng dan lauk pauk lainnya dibagi-bagikan kepada anggota masyarakat disekitarnya. Bahkan acara Nadran juga memakan waktu berhari-hari, disamping dibacakan doa-doa atau mantra-mantra juga berbagai hiburan menarik lainnya seperti tari-tarian, pagelaran wayang kulit sampai hiburan organ tunggal pun digelarnya sebagai tanda syukur para nelayan.
Kuat dugaan bahwa tradisi Nadran telah ada sejak masa sebelum Islam masuk, sebelum kedatangan agama Islam pagelaran tari-tarian doa dan mantra ini dilakukan sebagai bagian upacara keagamaan yang ditujukan untuk persembahan kepada para dewa seperti Dewa Pelindung (Batara Wisnu), Dewa Laut (Sang Hyang Baruna), Dewa Asmara (Sang Hyang Kamajaya), Dewa Gegana (Batara Indra), Dewa Api ( Batara Brama), Dewa Angin ( Batara Bayu), dan terakhir adalah Dewa Maut (Yamadipati).

Komentar

KWARCAB KOTA CIREBON mengatakan…
ENAK Donk jalan-jalan ke laut lepas... trus kapan nadrannya lagi nih... qu mo ikut..

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Juknis Lomba Tingkat II Kwartir Ranting Kesambi Kota Cirebon

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "