Perempuan-perempuan di Lingkaran Korupsi


Dalam beberapa hari ini publik atau masyarakat Indonesia dibuat tercengang oleh tingkah laku para politikus atau pejabat tinggi di republik ini, diawali dengan kasus korupsi alat simulator uji kendaraan bermotor yang di lakukan oleh salah satu pejabat tinggi di kepolisian Republik Indonesia hingga kasus suap daging sapi impor yang melibatkan salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Yang juga petinggi salah satu parpol yang berazaskan agama.


Kasus ini amatlah menarik perhatian masyarakat ramai, karena selain nilai korupsi yang merugikan negara, sangat besar juga melibatkan perempuan-perempuan yang kita tahu jumlahnya juga tidak sedikit, contohnya hasil korupsi yang dilakukan oleh salah satu petinggi di jajaran kepolisian RI ini yang telah merugikan negara kurang lebih 120 miliar, hampir semua uang hasil korupsi tersebut telah dibagi-bagikan kepada istri-istrinya dalam bentuk perhiasan, rumah, deposit, serta barang-barang mewah lainnya yang membuat istri-istri mereka pada akhirnya masuk ke dalam pusaran kasus tersebut dengan tuduhan pencucian uang (money laundering).

Dan yang baru-baru ini juga juga tidak kalah menggegerkan publik negeri ini, kasus suap kuota daging sapi impor yang melibatkan salah satu ketua partai berazaskan agama terbesar di Indonesia, dan orang dekatnya sebut saja (AF), dengan modus yang sama dia juga mengibahkan uang hasil kejahatannya dengan cara memberikan hadiah-hadiah terhadap perempuan-perempuan yang bukan istrinya dengan nilai yang cukup besar kalau dilihat dari nilai pemberiannya. Yang pada akhirnya juga membuat perempuan-perempuan tersebut masuk ke dalam lingkaran kejahatan yang sebenarnya mereka tidak mengetahuinya.

Dari kasus ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perempuan-perempuan masih tetap saja dijadikan objek keselahan mereka, serta objek pemberitaan yang menyudutkan perempuan. dan pada akhirnya dengan pemberitaan tersebut dapat menggiring opini publik bahwa perempuan selalu saja dianggap materialistis dan dianggap perempuan gampangan.

(Ditulis oleh Nur Hasan disarikan dari Koran Kompas, Selasa 7 Mei 2013)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON