dukungan kepada Ayi Nadjib berduet dengan Nasrudin Azis bukan keputusan Partai Demokrat

Pernyataan bakal calon gubernur (Bacagub) Jabar dari Partai Demokrat, Dada Rosada hanya pernyataan pribadi. Karenanya, dukungan kepada Ayi Nadjib berduet dengan Nasrudin Azis bukan keputusan Partai Demokrat. “Pernyataan itu tidak mencerminkan keputusan partai, hanya saja disampaikan di depan pengurus partai,” kata Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Cecep Suhardiman SH MH. Hal ini disampaikan Cecep menyikapi pernyataan bakal calon gubernur Jawa Barat dari Partai Demokrat, Dada Rosada yang menyebut Ayi Nadjib tepat berpasangan dengan Nasrudin Azis sebagai calon wali kota. Menurut Cecep, hingga saat ini partainya belum memutuskan siapa calon wali kota dan wakil wali kota yang akan diusung. Karena itu, terlalu dini jika Partai Demokrat dianggap sudah final mengusung Nasrudin Azis dan Ayi Nadjib.


Sementara itu, Ayi Nadjib kepada Radar, mengaku tersanjung atas dukungan Dada Rosada yang tidak lain adalah atasannya di Pemkot Bandung. Dukungan Dada, kata dia adalah sesuatu yang wajar. Terlebih lagi Dada Rosada melihat anak buahnya memiliki potensi untuk mengembangkan daerahnya. Untuk itulah, dirinya mendapat izin dari atasannya untuk mengembangkan potensinya melalui pencalonan wakil wali kota.

Pernyataan Dada, lanjut Ayi, mendorong dirinya untuk terus bersemangat melanjutkan cita-citanya. Karena sejak awal sudah komitmen dan konsisten mencalonkan sebagai wakil wali kota. Untuk itu, jika di PDIP terjadi satu paket wali kota dan wakil wali kota, maka dirinya optimis yang dipilih menjadi calon wakil wali kota adalah dirinya. Karena hanya dirinya yang mencalonkan sebagai wakil wali kota dari PDIP. “Rekomendasi wakil wali kota saya yakin akan jatuh ke saya,” tegasnya. Ayi bahkan mengklaim peluangnya berduet dengan Azis juga terbuka lebar.

Terlebih kompetitornya calon wakil wali kota hingga saat ini tidak ada. Pria kelahiran Kesambi ini juga menilai pernyataan Dada adalah sinyal dan upaya politik ketika partai koalisi. “Oleh karenanya, tinggal dinormatifkan. Apakah dengan Ano, Azis atau calon lain. Siapa pun wali kotanya, wakilnya tetap saya,” tandasnya. Ayi juga membeberkan sosialisasi yang telah dilakukan saat ini sudah ke level E-1 (wali kota), akan tetapi bidikannya tetap E-2 (wakil wali kota). “Kalaupun PDIP merekomendasikannya sebagai E-2 maka tetap akan saya terima,” ungkapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON