Latihan Siaga Puteri

LATIHAN SIAGA PUTERI
oleh Dadi Pakar pada 18 Oktober 2010 jam 12:08

KUTIPAN DARI BUKU “NAYATI SIAGA PUTRI”



B. MENYELENGGARAKAN LATIHAN SIAGA

Sebagaimana diketahui oleh Bunda, Siaga adalah anak yang berumur 7 s.d. 11 tahun. Mereka masih hidup dalam alam khayal. Untuk itu, mata acara latihan sebaiknya disesuaikan dengan alam mereka.

Mereka masih senang bermain-main dengan menempatkan diri dalam kehidupan alam khayal, misalnya mereka membuat “rumah” dari meja yang diselubungi oleh kain.

Mengingat keadaan angan-angan mereka maka seluruh latihan merupakan ROMANTIK yang diberikan secara bermain dengan:

1) menggerakkan badan;

2) menyanyi dengan tarian; dan

3) permainan tenang yang menggunakan otak.

Cara memimpin Siaga tidak dapat dan tidak boleh dilakukan seperti mengajar di sekolah sebab semua bergantung kepada:

1) keadaan anak-anak;

2) keadaan tempat; dan

3) kecakapan serta inisiatif dari Pembinanya.

Kita tidak dapat dan tidak boleh mengharuskan para Pembina untuk membebek atau menurut satu petunjuk, tetapi para Pembina diberi keleluasaan untuk bekerja menurut kecakapan masing-masing dan menggunakan PENGALAMAN ORANG LAIN.

Berikut ini adalah contoh latihan Siaga, misalnya kegiatan ROMANTIKA; PERGI KE LUAR KOTA:

1) Sesudah upacara pembukaan latihan dijalankan, anak-anak disuruh mencari uang, yang berupa batu kecil, pecahan genting, daun, bunga, atau kertas. Sesudah itu, Bunda mengatakan, “Siaga! Hari ini, kita naik kereta api. Kita akan pergi ke rumah mamak Bunda. Beliau mempunyai kebun yang luas sekali. Di kebun itu, banyak pohon buah-buahan. Maukah kalian ikut?” Anak-anak menjawab, “Mau, mau, Bunda!”.

Bunda lalu mengatakan, “Siaga itu di mana-mana badannya harus tampak bersih dan pakaiannya rapi maka Bunda ingin melihat kebersihan dan kerapianmu sebelum berangkat supaya nanti di jalan kalian tidak memalukan”.

Bunda mengadakan pemeriksaan badan dan pakaian. Mereka yang rapi pakaiannya, bersih kuku dan giginya, serta rapi rambutnya boleh naik kereta api kelas I. Sementara itu, yang kurang rapi naik kereta api kelas 2, sedangkan yang tidak rapi sama sekali duduk di gerbong barang. Harga karcis kelas 1 adalah Rp1000, kelas 2 Rp500, dan di gerbong barang Rp250. Bunda memberikan karcis berbentuk sobekan kertas kepada anak-anak yang harus dibayar sesuai dengan kelas karcis yang diberikan. Permainan ini adalah romantik untuk INSPEKSI KEBERSIHAN.

2) Sesudah inspeksi selesai, anak-anak berdiri secara berurutan. Semua Siaga yang duduk di kelas 1 berdiri paling depan dengan berpegangan bahu. Urutan kedua adalah mereka yang duduk di Kelas 2. Sementara itu, yang paling belakang adalah mereka yang duduk di gerbong barang.

Sulung berdiri di muka sebagai lokomotif. Bunda menjadi kondektur dengan bersuara

seperti bunyi kereta api, barisan Siaga berjalan berbelok di lapangan.(gambar).

Dalam latihan ini, Bucik bertindak sebagai mamak Bunda. Sesudah anak-anak sampai di tempat yang dituju, semua turun dari kereta api menuju ke tempat mamak menunggu. Mamak berkata, “Anak-anakku, ibu merasa girang sekali melihat kalian. Bersenang-senanglah di kebun ibu. Petiklah buah-buahan dan makanlah sesuka hati kalian, asal tidak merusak tanaman/bunga.”

Bunda dan para Siaga mengucapkan terima kasih dan memberi salam, lalu mereka berjalan-jalan. Dengan menunjukkan suatu benda, Bunda berseru, “Siaga! Lihatlah bagusnya kupu-kupu itu. Dapatkah kalian terbang seperti kupu-kupu itu?”

Dengan diberi contoh oleh Bunda, anak-anak lalu menirukan bagaimana kupu-kupu terbang. “Baik! Sekarang kalian semua menjadi kupu-kupu. Bucik menjadi anak-anak yang ingin menangkap kupu-kupu. Anak-anak sebagai kupu-kupu yang hinggap di pohon, semak-semak, atau tiang tidak boleh ditangkap. Di tempat-tempat tersebut, Bucik sebagai anak-anak tidak akan sanggup menangkapnya karena terlalu tinggi. Siapa tertangkap, menjadi anak sehingga jumlah kupu-kupu makin lama makin sedikit. “Nah, sekarang kita mulai! Terbanglah!”. Kupu-kupu lalu dikejar. Romantik ini merupakan permainan yang menggerakkan badan.

Pada susunan acara latihan sebaiknya ada selingan/pergantian (gerak tenang, gerak ramai, yang banyak menggerakkan badan, lalu tenang lagi, dst)

3) Bunda berkata, “Siaga! Kalian sekarang menjadi anak-anak lagi. Mamak bunda sekarang yang akan mengantar kalian”

Bucik (yang menjadi mamak) berkata, “Siaga, marilah kita melanjutkan melihat-lihat di kebun, tetapi berhati-hatilah karena di sini banyak ular!

Perhatikan baik-baik tempat yang kalian lalui, seperti pohon-pohon dan semak-semak”.

Sesudah anak-anak berjalan sekitar 3 menit, lalu mereka disuruh duduk di tempat lain.

Bucik : “Nah, Siaga! Sekarang, ceritakanlah apa yang kalian lihat dalam perjalan kalian tadi, misalnya, bunga apa namanya, bagaimana warnanya, pohon buah-buahan apa yang ada, binatang apa yang kalian temukan tadi, dsb!”.

Lihatlah, itu adalah permainan KIM (tenang), yang dipimpin oleh Bucik. Juga dalam memimpin acara-acara itu sebaiknya ada pergantian yaitu antara Bunda, Bucik, BundA, IMS, dst.

4) Bunda berkata, “Siaga! Lihatlah di sana! Ada rambutan yang sedang berbuah. Marilah kita lari ke sana dan memetik buahnya!”

Anak-anak lalu berlari ke sebuah pohon. Bunda menunjuk ke atas sambil berkata, “Lihatlah rambutan yang merah-merah itu! Coba, sampaikah tangan kalian untuk memetiknya?”

Bunda memberi contoh meloncat-loncat seperti sedang berusaha memetik buah yang tinggi tempatnya, dan anak-anak menirukan gerakan Bunda. Gerakan-gerakan yang lain juga dilakukan, seperti: Berdiri dengan tumit diangkat, tangan diangkat setinggi-tingginya, lalu berjongkok, dan meloncat-loncat. Ini adalah latihan GERAKAN BADAN

5) Ketika anak-anak berloncat-loncatan, Bucik berteriak, “Weeeeeeeek! Berhenti Siaga!

Lihatlah, pakaianmu sobek. Marilah kita duduk di bawah pohon ini dan menjahit pakaian yang sobek itu.”

Anak-anak disuruh mengeluarkan jarum, yang pada latihan yang lalu mereka diperintahkan untuk membawanya. Setiap anak diberi secarik kain untuk menjahit di bawah pimpinan Bucik.

Ini adalah latihan MENJAHIT (tenang), yang merupakan salah satu ketentuan ujian Siaga-Tata.

6) Selesai latihan menjahit, Bunda berkata, “Siaga, pakaian Bunda juga sobek, Bunda minta tolong kalian menjahitnya”. Setiap Barung “menjadi” benang dan jarum dan akan berlomba, siapa yang dapat menjahit dengan cepat.

Setiap Barung berdiri berderet-deret berpegangan tangan berlaku sebagai benang. Sementara itu, dua orang anak yang berdiri di dua ujung benang merupakan ujung yang akan memasuki lubang jarum. Setiap dua orang anak diberi nomor 1,2,3,4,5,dst. Jika Bunda mengatakan lubang 2, kedua ujung berlari memasuki lubang tersebut. Dari muka ke belakang, lalu berdiri berderet seperti semula. Yang selesai lebih dahulu, itulah yang menang. Inilah suatu permainan untuk SELINGAN dalam latihan, (banyak gerakan).

7) Bunda berkata, “Terima kasih anak-anakku, Siaga! Duduklah mengelilingi Bunda. Bunda punya nyanyian baru. Anak-anak diberi pelajaran MENYANYI (tenang).

8) Bunda berkata lagi, “Siaga, sekarang telah tiba waktunya untuk pulang. Marilah kita melihat jam dahulu, pukul berapa sekarang ini. Mamak mempunyai jam besar”.

Dua Barung yang terdiri atas 12 orang anak disuruh membuat suatu lingkaran dan tiap anak diberi nomor 1 s.d. 12. Dua barung lainnya merupakan jarum panjang dan pendek. Demikian seluruh Perindukan merupakan jam yang amat besar. Jika Bunda mengatakan, “Jam 8 kurang 5 menit, jarum pendek menunjuk ke nomor 8 kurang sedikit, sedang jarum besar menunjukkan nomor 11. Inilah latihan Melihat Jam dengan cara bermain (salah satu ketentuan ujian Siaga-Bantu).

9. Bunda berkata, “Sekarang sudah tiba waktunya untuk pulang. Marilah kita menghadap mamakku lagi untuk minta diri”. Salah seorang Siaga disuruh minta diri (atas nama seluruh Siaga) kepada Bucik (mamak). Bucik berkata, “Mamak tidak dapat mengatakan apa-apa, saking gembiranya. Coba, Mamak minta salah seorang Siaga untuk berbicara atas nama Mamak”. Salah seorang anak disuruh menjawab temannya yang minta diri tadi. Itulah suatu latihan MENERIMA TAMU (salah satu dari ketentuan ujian).

10) Setelah itu, anak-anak naik kereta api lagi. Mereka kembali ke tempat pembukaan latihan untuk mengadakan upacara penutupan latihan, lalu bubar.

Demikianlah salah satu contoh mempergunakan ROMANTIK dalam latihan Siaga dengan rencana: MENUJU KE SIAGA-BANTU yang dilaksanakan dalam 1 ½ jam, sebagai berikut:

1. Upacara pembukaan dan inspeksi……………………… 10 menit
2. Permainan untuk menciptakan suasana gembira

(sebagai warming up, gembira) ………………………… 10 menit

1. Melatih Panca Indera (tenang)…………………………… 5 menit
2. Gerak badan (banyak gerakan)…………………………… 10 menit
3. Latihan menjahit (tenang) ………………………………… 10 menit
4. Permainan selingan (banyak gerakan)………………… 10 menit
5. Latihan menyanyi (tenang) ………………………………. 10 menit
6. Latihan melihat jam (banyak gerakan) ……………… 10 menit
7. Latihan menerima tamu (tenang) ……………………… 5 menit

10. Upacara penutupan latihan diisi dengan

pengumuman-pengumuman ……………………………… 10 menit

+

Jumlah: 90 menit

Seorang Bunda yang menganggap Perindukan Siaganya sebagai suatu pasukan Penggalang yang masih kecil dan memberi latihan-latihannya seperti latihan dalam Pramuka Penggalang adalah seorang Pembina yang menempuh cara yang tidak benar.



C. BAHAN-BAHAN UNTUK MENGISI LATIHAN SIAGA

Latihan Siaga harus mengikat hati anak-anak. Hal itu terutama bergantung kepada acara yang disajikan kepada mereka. Oleh karena itu, penting sekali adanya rencana yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, sebelum diadakan latihan. Kita harus ingat bahwa latihan itu tidak merupakan hiburan, tetapi harus ada tujuan YANG NYATA, yaitu KE MANA KITA HARUS MEMBAWA ANAK-ANAK ITU?

Kegiatan yang mengarah ke Siaga-Bantu, Siaga-Tata, dan tanda-tanda KECAKAPAN harus menjadi kebiasaan dalam Perindukan Siaga.

Yang harus kita perhatikan, antara lain:

1) Memberikan HAL-HAL yang BARU. Jika mengulangi hal-hal/pelajaran yang lama, sebaiknya diberikan dengan cara yang baru. Itu bergantung kepada kecakapan/daya cipta/inisiatif setiap Pembina.

2) Menciptakan suasana tersendiri yang sesuai dengan keadaan suatu keluarga bahagia.

3) Kemajuan anak-anak harus tampak hasilnya sehingga setiap Siaga merasakan bahwa masuk ke Perindukan Siaga itu adalah sesuatu yang sangat berharga (merasa mendapat keuntungan).

4) Permainan sebaiknya dikemas dalam sebuah suatu cerita atau dalam romantik yang menarik hati anak-anak.

5) Pelajaran sebaiknya dimasukkan ke dalam permainan.



1. Permainan

Permainan adalah hal yang paling disukai oleh anak-anak, sedangkan bagi Pembina adalah suatu sumber dan kesempatan untuk mempelajari tabiat anak-anak.

Anak-anak yang curang, penakut, pemalu, cengeng, dan sebagainya akan kelihatan dalam permainan. Permainan ini dapat pula digunakan untuk mendidik anak-anak ke tujuan yang baik. Jangan terlalu banyak perlombaan yang diberi nilai atau hadiah karena akan menimbulkan suasana yang tidak baik dalam Perindukan, seperti iri hati dan permusuhan sebab perlombaan yang tidak sehat dapat berubah menjadi pertandingan yang dapat merusakkan suasana.

2. Macam-macam Permainan

a. Permainan Ramai

Permainan ramai artinya permainan yang banyak menggerakkan badan, berteriak, berlari-lari, dan sebagainya. ini biasanya diberikan pada permulaan latihan untuk menciptakan suasana gembira.

b. Permainan Panca Indra, contohnya:

1) Anak-anak duduk membentuk lingkaran dan Bunda duduk di tengah-tengah.

2) Beberapa benda diletakkan di atas tanah, misalnya: korek api, pisau, dan pensil. Satu demi satu, benda itu ditunjukkan kepada anak-anak dengan diberikan keterangan: korek api untuk tangan kiri, pisau untuk tangan kanan, dan pensil untuk kedua tangan.

Anak-anak disuruh mengingat-ingat. Dua macam barang dapat juga ditunjuk dengan perkataan: tali dan korek api untuk tangan kiri, dan seterusnya.

3) Bunda secara tiba-tiba mengambil salah satu barang, misalnya korek api. Setelah itu, barang tersebut ditunjukkan kepada anak-anak maka anak-anak harus segera mengacungkan tangan kirinya. Demikian pula dengan barang lain, sesuai dengan yang telah ditentukan.

4) Siapa yang salah, tidak boleh terus mengikuti permainan. Jika salah lagi, harus mundur satu langkah.

5) Barang siapa pada akhir permainan masih duduk tetap di tempatnya semula, dialah yang paling berhasil.

c. Permainan Ketentuan Ujian

Permainan ketentuan ujian, misalnya untuk ketentuan ujian MENJAHIT. Setiap anak diberi secarik kain, sepasang kancing, jarum, dan benang. Pada tanda mulai, anak-anak mulai memasang kancing. Anak yang memasangnya selesai pada waktu yang telah ditentukan, mendapat nilai satu.

Barung yang mendapat nilai terbanyak ialah yang menang. Permainan harus dikemas dalam sebuah cerita.

d. Pekerjaan Tangan

Anak-anak yang berusia 7s.d.11 tahun biasanya gemar sekali menggambar, membuat mainan, membuat alat dari tanah liat, batu, biji, menggunting, gambar, dan senang pula pada hiasan-hiasan. Keinginan serta kesenangan ini dapat dipenuhi dengan memberikan mereka pelajaran pekerjaan tangan yang mudah. Kegiatan ini dapat disertakan dalam acara latihan.

Selain memberikan kesenangan kepada anak-anak, kegiatan ini juga akan melemaskan jari-jari atau memberikan kepuasan kepada mereka karena alat-alat dipakai merupakan buatan sendiri. Dengan demikian, mereka mendapat kesempatan untuk mewujudkan daya cipta/perasaan mereka dalam bentuk hasil karya sendiri. Hal ini mendorong dan membangkitkan hasrat/usaha mereka untuk menciptakan sesuatu. Jika mereka menyenangi pekerjaan ini, akan timbul gagasan/kemauan untuk mengulangi membuatnya lagi. Untuk itu, diperlukan suatu suasana dan lingkungan yang membuat mereka bergairah. Selain itu, mereka pun perlu waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Memberi pekerjaan kepada anak-anak bukan untuk menjadikan mereka ahli, tetapi untuk mendidik agar mereka dapat memanfaatkan waktu luang dengan cara “mengubah” barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang berguna.

Misalnya:

1) Kotak korek api yang kosong dapat digunakan untuk membuat rumah-rumahan.

2) Klos benang dari kotak karton/kayu atau kulit jeruk dapat dibuat menjadi gerobak mainan.

3) Kain-kain sisa yang diisi dengan kapok/kapas dapat dibuat menjadi boneka anak-anak atau binatang.

Bentuk-bentuk pekerjaan tangan lainnya yang dapat diajarkan, antara lain:

1) wayang-wayangan dari rumput;

2) kalung dari bunga rumput, jail, atau bunga-bunga lainnya;

3) mengoleksi perangko, bungkus permen, cokelat, dan sebagainya;

4) boneka binatang atau barang, seperti asbak, dari tanah liat;

5) menganyam;

6) hiasan dari janur (daun kelapa) atau daun-daun lainnya; dan

7) herbarium (kumpulan bunga-bunga atau daun-daun yang dikeringkan, ditempelkan di buku, ditulisi nama dengan gambaran/catatan, dan sebagainya)

Dalam hal ini, Bunda dapat memberi petunjuk seperlunya. Dengan memerhatikan hasil karya para Siaga, Bunda dapat mengetahui watak/kecakapan dan bakat setiap anak.

Perlu diketahui dan diperhatikan oleh Bunda dan para Pembina/Pembantu lainnya bahwa jika hasil karya para Siaga kurang baik atau tidak sesuai dengan yang diharapkan, janganlah dicela secara terang-terangan. Hal ini dapat melemahkan/mematahkan motivasi/semangat mereka. Bimbinglah untuk membesarkan hatinya. Suruhlah mereka bekerja sendiri agar dapat mengembangkan daya ciptanya. Bagi Bunda, cukuplah dengan memberi petunjuk seperlunya dan memberi dorongan kepada mereka untuk memulai pekerjaan.

Bantuan/pertolongan yang terlalu banyak akan menghilangkan kesenangan dan gairah atau motivasi mereka.

Bunda tidak perlu ahli dalam hal ini. Yang penting bagi Bunda ialah memiliki sedikit pengetahuan tentang teori dan cara mengerjakan pekerjaan tangan supaya dapat memberi bimbingan dan dorongan kepada para Siaga asuhannya.

Jika Bunda tidak menguasainya, ia dapat meminta bantuan orang lain.

e. Menggambar

Suruhlah anak-anak menggambar suatu kejadian yang pernah mereka alami sendiri, misalnya, di jalan ada orang tua yang membawa barang yang berat dan terjatuh, lalu ditolong dan dipapah oleh seorang Siaga.

Cara menggambarnya tentu harus disesuaikan dengan alam pikiran anak-anak, dengan diberi warna yang dapat memperindah gambar dan menarik hati mereka.

f. Menggunting dan Menggambar

1) Suruhlah anak-anak membuat gambar, misalnya lingkaran, segi 3, segi 4, segi 5, segi 6, bentuk-bentuk bunga, dan bentuk daun lalu diberi warna.

2) Kumpulkan hasilnya, lalu bicarakan denan anak-anak tentang kekurangan/kesalahan hasil pekerjaan mereka.

3) Bunda dapat juga memperlihatkan kepada para Siaga guntingan gambar dari pemandangan alam yang indah, tempat-tempat yang terkenal, atau para tokoh/pahlawan yang terkenal, lalu Bunda dapat membicarakannya kepada anak-anak tentang riwayat/jasa/pekerjaan mereka. Ini sangat berguna untuk menambah pengetahuan umum anak-anak.

g. Merenda atau Membordir

Tidak ada salahnya, anak-anak Siaga diberi pelajaran merenda atau membordir karena anak-anak terkadang menyenangi pekerjaan ini.

1) Suatu anjuran, misalnya: seluruh Barung/Perindukan membuat rumah-rumahan dari karton yang diisi dengan perabotan rumah tangga, anak-anakan, tirai, dan taplak kecil yang dibuat/dijahit sendiri oleh anak-anak. Setiap anggota barung mendapat bagian membuat sesuatu. Hasil pekerjaan seperti ini akan menjadi kebanggaan barung/Perindukan.

2) Sangat baik sekali jika setiap anak membuat tikar/tempat duduknya yang dianyam, disulam/dibordir, direnda, dijahit sendiri untuk dipakai dalam latihan,.

3) Akhirnya, kumpulkanlah semua pekerjaan tangan untuk dibuat suatu PAMERAN

PERINDUKAN. Dalam pameran tersebut, disediakan juga berbagai minuman (cendol, rujak, dsb.) dan kue-kue yang semuanya itu dijual untuk umum. Kegiatan ini tentunya terlaksana dengan bantuan para orang tua anak-anak Siaga.

Kegiatan semacam ini akan menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antara orang-orang tua sePerindukan. Para orang tua akan mengetahui kecakapan anak-anak mereka dan segala kegiatan di dalam Perindukan.

4) Anjuran keempat ialah setiap barung sebaiknya mempunyai “MUSEUM”, yaitu koleksi hasil karya para Siaga sendiri yang disimpan di dalam kotak/rak.

5) Siapakah di antara para Bunda yang akan memperaktikkan anjuran-anjuran di atas ini?

h. Menyanyi

Menyanyi adalah suatu acara yang penting dalam Perindukan Siaga. Anak-anak biasanya suka sekali menyanyi, lebih-lebih jika disertai dengan gerakan atau tarian (singing-games). Oleh karena itu, berikanlah nyanyian sebanyak mungkin dalam acara.

i. Bercerita

Mulailah dengan cerita pendek tentang apa yang dibaca dalam buku atau tentang suatu peristiwa. Tentang hal ini akan dibicarakan secara luas dalam BERCERITA.

j. Bersandiwara

Anak-anak akan bermain sandiwara dengan cerita yang mereka kenal. Suruhlah mereka menggambarkan arti DWI DHARMA dengan bersandiwara bisu/pantomim.

Ini dapat dikerjakan oleh setiap Barung.



Bahan selengkapnya, lihat buku NAYATI SIAGAPUTRI, terbitanAkuSukA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON