Bakti Pramuka Lebaran


DI bawah sengatan matahari pesisir Kota Cirebon, ada sejumlah pelajar berbaju pramuka yang tengah sibuk mengatur arus lalu lintas. Bersama petugas Pos pengamanan masyarakat, para siswa ini berdiri mengayun-ayunkan tangannya, membunyikan peluit, membawa sebuah bendera merah, berdiri di pinggir jalan, seperti polisi.
Pemandangan ini banyak terlihat di sejumlah titik di kota Cirebon. Misalnya saja lampu merah Jl Brigjen Dharsono (By Pass)-Jl Pemuda. Setidaknya ada pelajar putri berseragam pramuka bersama polisi, ikut mengatur arus lalu lintas.



Ia nampak begitu lelah. Kerudung cokelat yang dikenakan terlihat basah, terkena bekas keringat. Hasil dari berdiri di pinggir jalan sejak pagi tadi. “Darimana, mba?” tanyanya, seraya saya mengenalkan diri.

Raut wajahnya ketika tahu saya akan mewawancarainya berubah sumringah. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan untuk pemilik nama Wildaniaty Sholehah (16).
Aksi Wilda bersama beberapa rekannya di Pos Pengamanan Masyarakat Ketupat, tahun 2012 merupakan pengalaman pertama. Jelas sesuatu yang sangat menarik baginya. “Baru tahun ini. Kesannya enak, seru,” katanya sambil sesekali menimpali guyonan dari rekan yang lain.

Bagi Wilda, pengalaman turun ke jalan langsung untuk mengatur arus lalu lintas memberinya pelajaran berarti. Perempuan yang bercita-cita jadi polisi wanita ini, jadi sangat tahu seperti apa suka duka profesi yang diidamkannya. “Jadi semakin tahu seperti apa rasanya menjadi polisi,” ungkapnya.
Dengan keikutsertaannya di bawah binaan Saka Bhayangkara ini, merupakan pengalaman yang tak ingin disia-siakan. “Mumpung masih kelas XI, saya jadi semangat ikutannya,” ujar siswi MAN 2 Cirebon ini.

Menurutnya, melihat langsung seperti apa kondisi arus mudik dan balik di Cirebon adalah momen yang tak bisa dilupakan. Bahkan, saat ia melihat langsung pengendara yang tidak tertib lalu lintas, atau kecelakaan yang ada di hadapannya. Ia sempat alami, kemarin (22/8). “Tadi pagi baru lihat di depan mata. Memang agak kaget, tapi kalau lihat kecelakaan, sebisa mungkin tidak panik. Harus bisa ditangani,” paparnya.

Selain itu, bahkan ia pun harus siap untuk tidak berkumpul dengan keluarga. Seperti yang disampaikannya kepada Penuli “Agak terambil waktu dengan keluarganya, karena setelah H+2 saya harus turun ke jalan lagi, tapi saya senang dan enjoy,” ujarnya.

Selain Wilda, adapula Juneri (17). Siswi asal SMK Wahidin ini pun merasakan seperti apa menjadi sukarelawan di Pos Pengamanan Masyarakat Ketupat 2012. Wanita yang merasakan seperti apa turun langsung ke masyarakat ini mengaku jadi sangat terbiasa untuk menangangi ketertiban lalu lintas, orang kecelakaan, dan sebagainya.

“Selama dua minggu ini saya rasa jadi pengalaman yang begitu mengesankan. Karena waktu saya, diberikan sebagian untuk kepentingan masyarakat,” bebernya.
Kebagian bertugas di Stasiun Kejaksan, Juneri jadi tahu seperti apa ribetnya mengurusi kepentingan orang banyak. Ini menurutnya jadi satu risiko tersendiri, manakala ia kelak menjadi seorang polisi wanita. “Saya jadi tahu bahwa pekerjaan ini menguras waktu, pikiran, tenaga. Tapi di situlah nikmatnya,” tukasnya.

Pemandangan ini menurut Humas Kwarcab Kota Cirebon Kak. Sutirman-MT merupakan agenda rutin tahunan Kwarcab Kota Cirebon yang bekerja sama dengan Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Kota Cirebon " "Alhamdulilah dari Saka Bhayangkara Kota Cirebon tahun ini telah menerjunkan anggota Pramuka T & D sebanyak 60 orang yang disebar di 12 titik Pos Pam di Kota Cirebon " ujarnya, " Kami sebagai petugas yg ditugaskan Kwarcab hanya sebatas monitoring dan evaluasi terhadap pospam2 yang ada di Kota Cirebon, karena setelah bakti ini selesai ada reward yang akan diberikan kepada para petugas itu, seperti Piagam Penghargaan dan TISKA ( Tanda Ikut Serta Kegiatan ) ", ujarnya dengan penuh semangat.

masih menurut Kak Sutirman-MT, bahwa " Pada setiap tahunnya Gerakan Pramuka juga menerjunkan Tim Kesehatan / Pos Kesehatan bagi Pemudik, yang didalamnya ada Anggota Satuan Karya Pramuka Bakti Husada beserta Tim dari Dinas Kesehatan " ujarnya. " Semua murni pengabdian masyarakat, tidak ada satupun anggota yang dibayar atau di dikasih tranport, ini bukti pengamalan tri satya dan dasa darma Pramuka, sesuai dengan SKU yang mereka ujikan,.

" bahkan untuk tahun depan tidak menutup kemungkinan peran DKR ( Dewan Kerja Ranting ) juga akan diterjunkan turut serta dalam pengamanan mudik lebaran yang dikemas dalam agenda " Bakti Pramuka Lebaran ". ujarnya yang juga Sekretaris Kwarran Kesambi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosesi Nuju Bulanan sebagai Bagian dari Budaya

Solusi Menciptakan " GOOD GOVERNMENT "

SEJARAH PERKEMBANGAN TRADISI NADRAN DI CIREBON